Mbah Surip Yang Bonek itu.. pernah ciptakan lagu buat BONEK

Siapa yang tak kenal dengan Mbah Surip ? seorang mantan penyanyi dan pengamen jalanan yg namanya melambung di tahun 2009 lewat lagunya "Tak Gendong". Orang mungkin melihat bahwa Mbah Surip seakan-akan terlalu cepat nge-TOP nya, seperti penyanyi karbitan yag cepat melambung tapi juga cepat tenggelam. Anggapan itu salah besar, krn Mbah surip mengalami masa-masa sulit dan gelap yg penuh dengan lika-liku dan perjuangan, bahkan pernah Mbah Surip berjalan kaki dari Bulungan menuju Ancol dengan hanya menenteng guitar buatannya sendiri. Mbah Surip sangat di kenal di kalangan pengamen bulungan sejak tahun 85-an, terutama pengamen dari kalangan arek suroboyo dan jawa timur yg sangat mendominasi di kelompok KPJ Bulungan. Mbah Surip juga sudah banyak menciptakan lagu-lagu sebelum lagu Tak Gendong menjadi Hit saat ini. Ia sudah melahirkan tujuh album, yaitu Ijo Royo-royo, Siti Maelan, Indonesia Satu, Bonek, Barang Baru, Bangun Tidur, dan Tak Gendong. Khusus lagu tentang Bonek Ia dedikasikan buat semangat perjuangan Bonek dalam mendukung Persebaya (Untuk mendengarkan lagu Bonek karangan Mbah Surip silahkan download)

Ayah empat anak dan kakek empat cucu yang lahir di ”Jerman” alias Jejer Kauman, Magersari, Mojokerto, Jawa Timur, ini mungkin selalu menjadi anomali di sekitar lingkungan ”gaulnya”. Selama bertahun-tahun, Mbah Surip beredar di Warung Apresiasi (Wapress) Bulungan, TIM, dan Pasar Seni Ancol sebagai orang ”merdeka”. Hidupnya suka-suka. ”Siapa yang dekat dengannya, dialah yang menghidupi.

”Mbah sekarang ini tinggal di mana?” tanya Tarzan, ketika memandu acara TV

”Ya, masih di Indonesia, ha-ha-ha...,” jawab Mbah Surip sambil terkekeh. Tarzan, yang biasanya tangkas bertukar dialog saat melawak, kali ini seperti mati angin. Ia cuma nyengir sembari menggaruk-garuk kepala.

Lelaki bernama asli Urip Ariyanto ini selalu tampil di depan publik dengan gaya ”kebesarannya”, rambut gimbal serta topi, baju, dan celana berwarna bendera Jamaika. Gaya ”rastafarian” ini memang mengacu pada gaya pemusik reggae Bob Marley. Banyak yang menafsir, ia pengikut Bob Marley yang mencintai kebebasan berekspresi. Tetapi, Mbah Surip menyangkal. ”Saya malah tidak tahu kalau musik yang saya mainkan itu namanya reggae, ha-ha-ha,” tuturnya.

Asal tahu, menurut pengakuan Mbah Surip, sejak dulu sampai sekarang, ia sedang belajar salah. ”Kalau belajar benar itu sudah biasa, saya sedang belajar salah....” Maka itu, sangat tidak mungkin mengejar kata ”belajar salah” pada Mbah Surip. Lelaki yang dulu menggelandang dalam arti sesungguhnya, antara Bulungan, Jakarta Selatan; Taman Ismail Marzuki (TIM); dan Pasar Seni Ancol, ini ibarat pasir pantai. Kalau kita menggalinya lebih dalam, tak lama kemudian air laut menutupinya.

Dan kini Mbah Surip sudah tiada, Semoga segala amalannya di terima oleh Allah SWT dan mendapat tempat paling mulai di sisi-Nya. Mbah... Bonek love you fullll.. Selamat jalan Mbah Surip. Lagu Bonek karangan Mbah saya jadikan warisan yg teramat berarti bagi kami.

Read More...

Stadion Bung Tomo

Apa kabar Stadion Gelora Bung Tomo? mungkin salah satu pertanyaan Arek Arek Suroboyo yang tidak sabar menanti kapan akan diresmikan Stadion yang nantinya akan menjadi kandang Klub Persebaya Surabaya ini. Stadion yang akan bisa menampung lebih dari 50.000 penonton tersebut sudah 82% selesai. 18% yang belum selesai dan kali ini dalam tahap penyelesaian adalah pada sisi penutup atap tribun, lintasan atletik di sekeliling pinggir Lapangan, Lampu pemancar 1.200 lux dari 42 titik lampu serta Scoring Board.





Read More...

Lagu Special Dari Bonek Buat Om Nurdin - Laga Charity Game di GBT

Rasanya terhibur sekali kemarin dengerin Bonek bernyanyi-nyanyi dengan riang gembira di ajang Charity Game antara Garuda Merah vs Garuda Putih. Salut deh buat Bonek, Lebih baik melampiaskan emosi dengan bernyanyi penuh riang gembira, daripada dengan kekerasan. Selamat buat Om Nurdin sudah dapat kado spesial dari Bonek. Selamat Bernyanyi Kawan :

Aku Punya Anjing Kecil
Ku Beri Nama Nurdin
Dia senang Berlari-Lari
Sambil Bernyanyi-Nyanyi

Nurdin Jancuk
Nurdin Jancuk
Nurdin Mbokne Ancuk
Read More...

Tempo Mengungkap Kebobrokkan PSSI

JAUH hari sebelum dibuka, sudah terasa Kongres Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia akhir pekan lalu di Hotel Pan Pacific Nirwana Bali Resort, Tanah Lot, Bali, bakal berlangsung panas. Sehari sebelum acara, petugas keamanan hotel menghalau siapa pun yang tak berkepentingan. Polisi bertebaran di mana-mana. Belasan wartawan bahkan sempat diusir karena tak punya kartu izin meliput Kongres PSSI. Organisasi yang dipimpin Nurdin Halid itu memang sedang gonjang-ganjing, antara lain, karena lahirnya kompetisi tandingan Liga Primer Indonesia (LPI).


Pertikaian klub pendukung Liga Super Indonesia, yang bernaung di bawah PSSI, dengan klub yang "hijrah" ke Liga Primer menambah ketegangan kongres. Ada kabar ratusan suporter Bonek-pendukung klub Persebaya Surabaya, yang pindah ke LPI-akan menggelar unjuk rasa di Bali. Bonek memprotes kebijakan Ketua Umum PSSI Nurdin Halid yang membekukan keanggotaan Persebaya dan melarang eks Ketua Persebaya Saleh Ismail Mukadar menghadiri kongres. "Begini jadinya kalau PSSI dipimpin orang seperti Nurdin," ujar Saleh pedas. Bersama sejumlah pendukungnya, Saleh diam-diam sudah masuk arena kongres di hotel milik keluarga Bakrie itu. "Nurdin selalu bikin aturan sendiri," kata Saleh dengan kesal.

PSSI juga membekukan keanggotaan PSM Makassar, Persis Solo, Persibo Bojonegoro, dan Persema Malang. Selain Persis Solo, tiga klub itu sudah pindah ke Liga Primer Indonesia. Sejak awal Januari lalu, meski tidak direstui PSSI, liga yang digagas Gerakan Reformasi Sepak Bola Nasional dan pengusaha Arifin Panigoro itu memang sudah bergulir. Meski tak diundang, semua klub yang dicoret PSSI sudah merapat ke Bali. "Kami menganggap surat pembekuan ini tidak sah," kata Ketua Umum Persibo Taufik Risnendar.

Dari luar arena kongres, serangan terhadap PSSI tak kalah gencar. Sejumlah mantan pengurus PSSI-antara lain Sumaryoto, Tondo Widodo, dan Abu Bakar Assegaf-menggugat kepengurusan Nurdin Halid di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. "Mereka cacat hukum dan harus mundur secepatnya," kata Harjon Sinaga, kuasa hukum para penggugat.

Meskipun PSSI dirundung setumpuk masalah, sepak bola Indonesia dua bulan terakhir ini mendadak jadi buah bibir masyarakat. Ditangani pelatih asing Alfred Riedl, tim nasional mencapai final Piala Federasi Sepak Bola ASEAN, Desember lalu. Ketika tim nasional "tewas" di tangan negeri jiran Malaysia, publik kembali menyorot kepemimpinan buruk Nurdin Halid.

Selama tujuh tahun Nurdin memimpin PSSI, boleh dikata tak ada prestasi membanggakan. Indonesia tak sekali pun merebut Piala ASEAN. Satu dekade terakhir, Indonesia cuma jadi penggembira di panggung sepak bola dunia. Kompetisi kacau-balau, diwarnai kericuhan, baku hantam, juga dugaan pengaturan hasil pertandingan.

Pada pertengahan 2010, sebuah kantor auditor internasional diundang mencari tahu apa yang salah dengan pengelolaan klub-klub di Indonesia. Auditor itu memeriksa 16 klub-sebagian besar bertarung di Liga Super Indonesia, kompetisi divisi utama di negeri ini-dan menemukan fakta memprihatinkan. Meski menelan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sampai puluhan miliar setiap tahun, hanya tiga klub yang punya laporan keuangan teraudit. Bahkan hanya empat klub yang berbadan hukum. Selebihnya tak jelas bentuk organisasinya.

Semua klub tidak punya sistem pembukuan standar. "Laporan keuangan hanya dibuat dengan program Excel dan bisa diakses siapa saja tanpa proteksi memadai," tulis laporan itu. Semua klub tidak punya aset. Stadion, asrama, dan kendaraan merupakan pinjaman pemerintah daerah. Manajemen dan pemain datang dan pergi. Sebagian pemain dan pelatih tak punya kontrak hitam di atas putih. Laporan setebal 165 halaman itu menunjukkan betapa kacau manajemen sepak bola di negeri ini.

Tak mungkin prestasi lahir dari keadaan runyam begini. Ada indikasi, dalam kompetisi, semua bisa diatur. Segala cara dianggap halal, termasuk mengatur wasit, kartu kuning dan merah, juga skor pertandingan. Bahkan pengaturan diduga sampai pada penentuan klub juara. Kemenangan diraih lewat jalan apa saja, demi mempertahankan kucuran anggaran (APBD) dan prestise daerah.

l l l

STADION seakan segera meledak. Teriakan dan nyanyian puluhan ribu suporter kedua kesebelasan memecahkan telinga. Minggu ketiga Februari tahun lalu itu Persebaya Surabaya bertamu ke kandang Arema di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, dalam kompetisi Liga Super. Aremania dan Bonek "bertempur" adu keras suara, memberi semangat kedua tim yang menyerang silih berganti.

Tak ada yang aneh sampai menjelang menit terakhir. Tiba-tiba, hanya semenit sebelum peluit panjang ditiup wasit, ketika pemain Persebaya, Anderson da Silva, berebut bola dengan pemain lawan, pemain Arema jatuh di kotak penalti Persebaya. Prittt.... Wasit Olehadi dari Tangerang menunjuk titik putih: penalti untuk Arema. Stadion seperti pecah oleh gemuruh teriakan Aremania. Kapten Arema, Pierre Njanka, mengeksekusi tendangan "12 pas" itu dengan mulus. Arema unggul satu gol.

Seusai pertandingan, Saleh Ismail Mukadar, yang ketika itu masih menjabat manajer, tak sanggup menahan marah. Dia menuntut polisi memeriksa dan menahan wasit Olehadi. Saleh menduga ada "faktor nonteknis" yang membuat Persebaya kalah. Wasit tak akan memberikan penalti jika tak ada pelanggaran yang mencolok mata. "Sejak itu saya mulai curiga kepada pemain saya sendiri," kisah Saleh tentang kejadian buruk itu.

"Faktor nonteknis" dalam sepak bola Indonesia merupakan istilah sopan pengganti "pengaturan" dari luar lapangan-sesuatu yang tak ada urusannya dengan keterampilan menggocek bola atau melesakkan bola ke gawang lawan. Klub yang hebat dalam menyerang bisa sangat frustrasi jika wasit terus-menerus meniup peluit tanda penyerang berdiri offside-berdiri di belakang barisan pertahanan lawan ketika bola dioper. Di menit-menit penghabisan, klub yang andal bisa kalah dengan konyol bila wasit mendadak memberi lawan hadiah penalti untuk pelanggaran kecil. Pemain juga punya sejuta trik untuk "mengundang" wasit memberikan kado penalti.

Penyelidikan Saleh Mukadar akhirnya mengungkap kebusukan itu. Seorang pemain tim "Bajul Ijo"-julukan Persebaya-mengaku ada lima pemain di tim itu yang bisa "dibeli" di Liga Super. Pemain belakang tim itu terkenal spesialis membuat blunder alias kesalahan fatal-yang ternyata merupakan "pesanan". Dari 22 pertandingan paruh pertama musim lalu, gawang Persebaya kemasukan 36 gol. "Kami akhirnya sepakat merombak tim," kata Saleh.

"Perdagangan gol" bukanlah barang baru. Sejumlah sumber yang dihubungi Tempo mengaku sub-agen pemain atau bahkan pemain sendiri sering datang menawarkan diri untuk bermain "sandiwara". Biasanya mereka datang sehari sebelum pertandingan. Setelah deal, manajer tim lawan akan berhubungan melalui pesan pendek. Bahkan sumber Tempo mengungkapkan, sebuah klub cukup mendapat tiket pesawat pulang untuk mau menerima kekalahan dengan selisih gol tipis.

Isi pesan pendek untuk mengatur pertandingan itu lucu-lucu. Ada yang menawarkan, "Ini ada lima kambing siap disembelih, tertarik atau tidak?" Tarif "kambing" alias pemain yang bersedia membuat timnya kalah itu bervariasi antara Rp 5 juta dan Rp 10 juta. "Besarnya tergantung tim dan penting atau tidaknya pertandingan," kata sumber itu. Pemain sering kepepet, karena gaji bulanan sering terlambat. Nilai kontrak pun kadang disunat.

Akhir Februari 2010, Persebaya akhirnya memecat pelatih Danurwindo. Pelatih senior Rudy William Keltjes masuk. Namun itu bukan akhir nasib buruk Persebaya. Dua bulan kemudian, Persebaya makin terpuruk di zona degradasi. Mereka terancam jatuh ke Divisi Utama. Pada pertandingan menentukan, melawan Persik Kediri, akhir April 2010, terjadilah insiden yang praktis membunuh peluang Persebaya.

"Empat hari sebelum pertandingan di Kediri, izin polisi tidak turun," kisah Saleh Mukadar. Alasannya, pertandingan terlalu dekat dengan pemilu. Panitia lalu memindahkan laga ke Yogyakarta sepekan kemudian. Lagi-lagi pertandingan batal. "Sesuai keputusan Komisi Disiplin, seharusnya kami menang walk-out 3-0," ujar Saleh. Dengan begitu, Persebaya lolos dari degradasi. Namun Persik meminta banding. Komisi Banding PSSI memutuskan pertandingan itu ditunda sampai Agustus. Lokasinya pun ditetapkan di Palembang. Frustrasi dengan keputusan PSSI, Persebaya menolak bertanding dan dinyatakan kalah.

Saleh pun meradang. Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan ini dengan lantang menyatakan, "Kami memang sengaja disingkirkan untuk menyelamatkan tim lain." Tim yang lolos dari zona degradasi ketika itu adalah Pelita Jaya-klub milik Grup Bakrie. Ketika ditanya, Manajer Pelita Jaya, Lalu Mara Satriawangsa, menampik tudingan Saleh. "Biasa, kalau kalah pasti marah-marah," katanya santai.

l l l

APRIL 2010. Musim kompetisi tinggal sebulan lagi. Arema masih kokoh bertengger di pucuk klasemen, ditempel ketat Persipura Jayapura. Klub asal Papua ini siap menyalip jika Arema kalah dalam pertandingan berikutnya.

Laga yang menanti Arema tidak sembarangan. Mereka harus menghadapi Persiwa Wamena di kandang lawan, Stadion Pendidikan, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Selama kompetisi Liga Super berlangsung, tak ada satu pun tim sepak bola yang bisa mengalahkan Persiwa di kandangnya.

"Persiwa Wamena ini tim aneh, karena selalu mendapat penalti di menit-menit akhir," kata pelatih Arema, Robert Alberts, sebelum berangkat ke Papua. Gol ajaib akibat keputusan wasit yang ganjil memang kerap terjadi pada pertandingan Liga Super di Papua. Walhasil, Arema seperti menjalani misi mustahil.

Pemain Arema juga "terteror" insiden kasar dalam pertandingan dua pekan sebelumnya di Wamena. Pemain-pemain Persiwa tak hanya mengalahkan Persisam Samarinda dengan satu gol, tapi juga memukuli enam pemain Persisam. Manajer Persiwa Jhon Banua bahkan turun ke lapangan dan memukul pemain hanya karena ada pemain Samarinda yang memprotes gol tunggal Persiwa yang dianggap offside. Jhon sudah meminta maaf atas insiden memalukan itu.

Tapi, di luar dugaan banyak orang, Arema justru menang 2-0. Lewat pertandingan yang bersih, Arema bermain cantik. Dua gol Arema dicetak Muhammad Ridhuan dan Roman Chmelo.

Ketika dihubungi dua pekan lalu, Jhon Banua mengaku masih ingat betul pertandingan menentukan itu. "Saya marah sekali," kata Wakil Bupati Jayawijaya itu. Itulah kekalahan pertama dan satu-satunya Persiwa di kandang sendiri. "Sepertinya PSSI memang memberi kesempatan kepada Arema untuk juara pada musim lalu," ujar Jhon bersungut-sungut.

Apa rahasianya? Arema mengaku meminta tim khusus PT Liga Indonesia memantau pertandingan di Wamena. "Kami ingin mengantisipasi semua faktor nonteknis," kata Manajer Arema Mudjiono Mudjito. "Apa salahnya menghubungi semua pihak terkait untuk berjaga-jaga?" Artinya, Arema menang justru ketika pertandingan tidak diganggu "keanehan" macam-macam.

Menurut sumber Tempo, kejadian di Wamena itu indikasi bahwa Arema memang "dikawal" petinggi PSSI. Di Liga Super dan divisi-divisi di bawahnya, memang sudah jamak dikenal pentingnya sebuah klub membeli "pengawalan" khusus dari "bapak asuh". Biasanya mereka adalah petinggi PSSI.

Di Kalimantan, tim Divisi I seperti Persepar Palangkaraya, misalnya, pernah menghabiskan Rp 400 juta untuk urusan ini. Sigit Wido, Wakil Sekretaris Umum Persepar, mengaku menyerahkan fulus itu dalam beberapa tahap kepada Subardi, Ketua Badan Liga Amatir Indonesia, dan anggota Komite Eksekutif PSSI. "Itu harga paket untuk mengantarkan kita naik ke divisi berikutnya," kata Sigit.

Dihubungi terpisah, Subardi membantah cerita ini. "Itu pembunuhan karakter," katanya. Menurut dia, yang ada di PSSI adalah pembagian wilayah untuk pembinaan klub. Sejumlah anggota Komite Eksekutif PSSI mendapat tugas dari Nurdin Halid untuk mengawasi wilayah tertentu.

Subardi, misalnya, ditugasi mengawasi klub-klub di Jawa. Anggota lain, Mafirion dan Muhammad Zein, bertanggung jawab mengawasi Sumatera. Nurdin sendiri mengawasi langsung klub di Sulawesi dan Kalimantan. "Pembagian ini berdasarkan kedekatan kami dengan kultur setempat," kata Subardi.

Singkat cerita, pada Mei 2010, setelah bermain imbang 1-1 dengan PSPS Pekanbaru, Arema resmi menjadi juara. Ribuan suporter Aremania membanjiri pertandingan terakhir Arema di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Di sana, Arema mengempaskan Persija 2-1. Lengkap sudah kesaktian tim Singo Edan.

l l l

KALAU dirunut ke belakang, Arema sesungguhnya bukan tim andalan. Ketika musim dimulai, September 2009, mereka nyaris bubar. Pemilik Arema, PT Bentoel Indonesia, mendadak menarik diri. Perubahan kepemilikan di Bentoel adalah biang keladinya. British American Tobacco, pemilik baru perusahaan rokok itu, melarang Bentoel mengurus klub olahraga.

Arema pun kelimpungan. Apalagi orang-orang Bentoel di Arema mundur satu per satu. Darjoto Setyawan, Ketua Yayasan Arema, dan Gunadi Handoko, Direktur Utama PT Arema, mengundurkan diri. Berbagai skenario penyelamatan pun dicoba. Mereka bahkan pernah menjajaki merger dengan klub sepupunya, Persema Malang. Tapi gagal.

Ketika krisis itulah ikatan lama antara keluarga Bakrie dan Arema hidup lagi. Di masa awal pendiriannya, pada 1987, Arema pernah mendapat bantuan Rp 61 juta dari Nirwan Dermawan Bakrie. Ini jumlah yang lumayan besar untuk zaman itu. Andi Darussalam Tabusalla, ketika itu menjabat Sekretaris Galatama, juga terhitung pendiri Arema.

Kini Nirwan dan Andi jadi orang penting di PSSI dan PT Liga Indonesia. Nirwan adalah Wakil Ketua Umum PSSI dan Komisaris Utama PT Liga. Sedangkan Andi Darussalam-orang kepercayaan keluarga Bakrie dalam penyelesaian krisis Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur-adalah Presiden Direktur PT Liga.

Nama keduanya tercatat dalam akta notaris pendirian PT Liga, tertanggal 8 Oktober 2008. Dalam akta itu tertulis bahwa pemilik mayoritas saham PT Liga adalah PSSI, yang diwakili Ketua Umum Nurdin Halid dan Sekretaris Jenderal Nugraha Besoes.

Sumber Tempo di dalam manajemen Arema membenarkan adanya bantuan Bakrie. "Jumlahnya lebih dari Rp 7 miliar," katanya. Ketika mulai berlaga di musim ini November lalu, klub itu memang masih berutang Rp 7,1 miliar.

Peran Andi Darussalam tak kalah besar. Dia turun tangan langsung ketika Arema mengalami krisis keuangan. "Saya punya ikatan batin yang kuat dengan Arema," ujarnya ketika itu. Menurut Andi, Arema harus diselamatkan untuk menjadi proyek percontohan bagaimana sebuah klub profesional dikelola dan sukses. Tak hanya soal dana, Andi juga mencarikan pelatih dan pemain asing terbaik.

Keterlibatan Andi dan Nirwan inilah yang-mau tak mau-membuat Arema disegani klub lain. "Mana ada yang berani mengganggu Arema?" kata seorang pengawas pertandingan. Ketika sebagian klub lain berjibaku, kasak-kusuk kanan-kiri menyiasati "faktor nonteknis", Arema bisa melenggang. Gelontoran dana Rp 4,5 miliar untuk Arema dari Ijen Nirwana-perusahaan pengembang perumahan milik Grup Bakrie-di awal musim ini mempertegas kedekatan antara Arema dan keluarga Bakrie.

Sumber Tempo menyebutkan ada deal lain di balik kemenangan Arema di Liga Super. Bank Rakyat Indonesia kabarnya sudah dijajaki untuk jadi sponsor utama jika Arema juara. Nilai kontrak itu mencapai Rp 20 miliar. Tapi batal. "Arema memang pernah memberi presentasi di hadapan manajemen BRI. Tapi kami menolak karena sudah berkomitmen membantu basket dan karate," kata Muhamad Ali, Sekretaris Korporat BRI.

Joko Driyono, Direktur Utama PT Liga, menegaskan tidak pernah ada skenario mengangkat Arema jadi juara. "Itu hanya ungkapan kekecewaan tim yang kalah," ujarnya. Andi Darussalam hanya berkomentar singkat, "Soal itu tanya Pak Nugraha saja. Kami sudah sepakat dia juru bicaranya."

Ketika dihubungi, Sekretaris Jenderal PSSI Nugraha Besoes hanya tertawa dan menolak berkomentar panjang. "Itu ribut-ribut lama," katanya. Sama seperti Joko, dia menilai kabar ini hanya isu yang diembuskan pihak yang kecewa.

Nirwan Bakrie sendiri menanggapi tuduhan ini dengan ringan. "Saya juga dengar itu," katanya sambil tersenyum. Tapi dia membantah punya andil memenangkan Arema jadi juara Liga Super. "Arema memang bagus. Mereka jadi juara ya karena menang terus," ujarnya.

Ketua Satgas Anti-Suap dan Mafia Wasit PSSI Bernhard Limbong mengakui memang tak mudah menembus mafia pertandingan dan membongkar praktek suap-menyuap di tubuh PSSI. "Ini seperti bau kentut. Semua mencium dan merasakan, tapi sulit dicari buktinya," katanya.

Koteka dan Kambing Pinggir Lapangan

Permainan atraktif dan dinamis yang dulu disebut sepak raga ini selalu menyedot perhatian. Banyak kepentingan pun menungganginya: dari urusan judi sampai politik. Jalan pintas kerap ditempuh agar tim yang dijagokan menang, termasuk menggelontorkan suap. Pemain, manajer, pelatih, wasit, dan pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia pernah tercemar rasuah. Sebagian terungkap, tapi lebih banyak yang lolos.

Inilah sejumlah modus yang kerap digunakan untuk mengatur skor pertandingan.

Manajer/pelatih:
Manajer klub menelepon atau mengirim pesan pendek ke manajer klub lawan, baik secara langsung maupun lewat perantara. Ia menawarkan pemainnya yang bisa dibeli. �Saya punya lima koteka, nih. Mau beli?" Atau, �Ini ada lima kambing siap disembelih."

Wasit:
Sebelum hari pertandingan, manajer klub memesan wasit tertentu yang telah dikenalnya. Tarifnya Rp 20-50 juta, tergantung tawar-menawar dan penting-tidaknya pertandingan. Di kamar ganti, klub akan mengirim orang untuk menjaga wasit agar tidak �digarap" tim lain. Saat pertandingan, wasit bisa menghadiahkan penalti, menghujani pemain lawan dengan kartu kuning/merah, dan tutup mata terhadap pelanggaran tim yang membayar.

Pemain:
Untuk mengamankan kemenangan, cukup �membeli" minimal tiga pemain klub lawan: kiper, bek, dan penyerang. Menurut seorang pengurus klub, penyerang ditugasi terus-menerus menendang bola ke luar lapangan saat mendekati gawang lawan. Pemain belakang diorder mengendurkan penjagaan dan melakukan pelanggaran kasar di kotak penalti. Sedangkan kiper diminta gagal menangkap bola.

Tarif suap
Rp 5-25 juta per pemain per pertandingan

Fulus di Sekitar Lapangan

Aroma suap mulai kencang tercium dari lapangan hijau pada 1960-an. �Kreativitas" mafia yang ingin mengatur hasil pertandingan kian mencengangkan.

1960
Persatuan Sepak Bola Makassar menonaktifkan Ramang, striker andalannya, karena diduga menerima suap.

1961
�Skandal Senayan" mengguncang sepak bola Tanah Air. Delapan belas pemain tim nasional, seperti Bob Hippy dan Wowo Soenaryo, serta tiga wasit dituduh menerima suap sekitar Rp 25 ribu per orang ketika Indonesia menjamu Yugoslavia pada laga persahabatan.

Oktober 1978
Kiper tim nasional, Ronny Pasla, dilarang bertanding lima tahun karena menerima suap pada ajang Merdeka Games di Kuala Lumpur, Malaysia. Tiga rekannya diberi sanksi dua tahun. Sedangkan Iswadi Idris dan Oyong Liza mendapat sanksi satu tahun.

Juli 1979
Javeth Sibi, pemain klub Perkesa 78, dan empat rekannya menerima suap Rp 1,5 juta dari bandar judi. Mereka diberi sanksi setahun larangan bermain.

Oktober 1979
Endang Tirtana, kiper klub Warna Agung, dan gelandang tengah Marsely Tambayong menerima suap Rp 1 juta dari bandar judi.

Agustus 1981
Budi Santoso, Bujang Nasril, dan M. Asyik dari klub Jaka Utama mengantongi suap minimal Rp 100 ribu dari bandar judi. Mereka diganjar sanksi lima tahun.

1982
Budi Trapsilo dari Persatuan Sepak Bola Medan dan Sekitarnya dilarang bermain sepak bola sepuluh tahun karena suap.

April 1984
Sun Kie alias Jimmy Sukisman, bendahara klub Caprina Bali, dihukum lima tahun tidak boleh aktif dalam sepak bola nasional karena menyuap pemain Makassar Utama. PSSI juga membekukan klub Cahaya Kita milik Lo Bie Tek dan Kaslan Rosidi. Keduanya dilarang mengurusi sepak bola lagi.

April 1987
Pemain tim nasional Noach Maryen, Elly Idris, Bambang Nurdiansyah, dan Louis Mahodim menerima suap saat penyisihan pra-Olimpiade di Singapura dan Tokyo. Mereka diberi sanksi tiga tahun.

Maret 1998
Wakil Ketua Komisi Wasit PSSI Djafar Umar dan 40 wasit lain terbukti menerima suap. Ia dilarang aktif di sepak bola selama 20 tahun. Tapi pengurus klub yang menyuap malah lolos.

Periode Nurdin Halid 2003-sekarang

Juni 2007
Ketua Komisi Disiplin PSSI Togar Manahan Nero dan Wakil Sekretaris Jenderal Kaharudinsyah dituduh menerima suap Rp 100 juta dari klub Penajam. Sekretaris Umum Penajam Syawal Rifai dan Asisten Manajer Arismen Bermawi dihukum tak boleh mengurus sepak bola selama lima tahun. Togar dan Kaharudinsyah lolos dan sampai sekarang menjadi pengurus PSSI.

Oktober 2010
Pelatih Persibo Bojonegoro, Sartono Anwar, mengaku dimintai Rp 10 juta oleh wasit ketika bertanding melawan Persema Malang di Stadion Gajayana. Satgas Anti-Suap dan Mafia Wasit PSSI memanggil wasit Iis Permana, hakim garis Trisnop Widodo dan Musyafar, serta wasit cadangan Hamsir. Tak ada sanksi buat para pengadil. Sartono justru didenda Rp 50 juta karena berkata kasar kepada wasit.

Uang Saku Jago Kandang
Menjadi tuan rumah adalah keuntungan, baik ada suap maupun tidak. Tapi di Liga Super Indonesia sungguh luar biasa. Hampir tak ada tuan rumah yang kehilangan poin pada pertandingan kandang. Resepnya sederhana: �Kita kasih uang saku ke wasit," kata satu manajer klub. Kalau tim tamu ngotot bertahan, hadiah penalti di menit-menit terakhir siap diberikan.

Read More...

Bukti Kebiadaban PSSI Pimpinan Napi Nurdin Halid. Persebaya Di nyatakan Kalah WO

Persebaya akhirnya di nyatakan kalah WO, Persebaya yang seharusnya menghadapi Persik di Stadion Jakabaring, Palembang, Minggu (8/8/2010), menolak bertanding dengan tidak datang ke kota Palembang.

Berikut kronologis dari awal permasalahan antara Persik vs Persebaya :
  • Tgl 29 April 2010 Kubu Persik Kediri gagal menggelar pertandingan home (kandang) melawan Persebaya karena alasan tidak mendapatkan ijin dari pihak keamanan.
  • Tgl 6 Mei 2010, Selanjutnya PSSI memindahkan laga ini di Yogjakarta, Persebaya hadir di lapangan, sementara kubu persik tidak hadir di lapangan. Akhirnya tgl 7 Mei 2010,, Komisi Disiplin PSSI mengeluarkan surat keputusan nomor 74/Kep/KD/ISL/II/V-10, bahwa menjatuhkan hukuman terhadap Persik kalah walkover (WO) dan denda sebesar Rp 25 juta terhadap Persik.Sanksi berdasarkan aturan Manual Liga Indonesia pasal 26 ayat 6, bahwa klub yang tidak melaksanakan pertandingan sesuai dengan jadwal dinyatakan kalah 0-3 serta pengurangan poin dan sanksi dari Badan Peradilan PSSI. (Hukuman sama dijatuhkan ke Persija karena gagal menggelar laga melawan Persiwa Wamena)
  • Persik Kediri Mengajukan Banding ke Komisi Banding PSSI dan Tgl 7 Juni 2010, Komisi Disiplin PSSI kembali menjatuhkan denda Rp 25 juta karena mengajukan banding ke Komisi Banding PSSI. (Merujuk Kode Disiplin PSSI Pasal 127, bahwa klub yang terkena denda di bawah Rp 50 juta dan sanksi dilarang bermain kurang dari tiga pertandingan tidak bisa mengajukan banding).
  • ANEHNYA -> Komisi Banding merekomendasi PT ISL menggelar tanding ulang Persik vs Persebaya untuk berebut tiket play off melalui surat keputusan nomor 6/Kep/KB/ISL/II/V-10. (Keputusan itu baru ekspose atau diterima Persebaya tertanggal 16 Juli 2010. Dan di putuskan tanding ulang di kediri 5 Agustus 2010.
  • 3 Agustus 2010, Polda Jatim melarang partai Persik lawan Persebaya di Kediri, larangan pertandingan ini pun akhirnya di teruskan ke Polres dan Panpel Persik. Pertandingan pun di nyatakan Gagal di gelar. Tapi anehnya Persik tetap ngotot datang ke stadion Brawijaya. Sementara kubu persebaya yg sebelumnya bersiap ke kediri mengurungkan datang karena larangan dari Polda Jatim.
  • 5 Agustus 2010, Begitu pertandingan di batalkan, PSSI masih ngotot bahwa Partai Persik vs Persebaya harus tetap di gelar. Akhirnya dipilih Palembang sebagai lokasi Pertandingan ini.
  • 8 Agustus 2010. Persebaya di nyatakan WO karena tidak hadir di palembang. Persik di nyatakan menang 3-0, tapi tetep belum bisa selamat dari Jurang Degrasi. Baik Persik dan Persebaya akhirnya di nyatakan Degrasi dan Persebaya terancam dapat sangsi tambahan karena tidak hadir di Palembang. Dalam kasus ini yg di Untungkan adalah Pelita Jaya Karawang. Karena walaupun Persik menang 3-0, tetap menang selisih Gol, dibutuhkan minimal menang 7-0 atas Persebaya untuk bisa meloloskan persik ke laga Play Off. Sementara Persebaya minimal harus menang 3-0 atas Persik untuk bisa lolos ke babak play off.
Read More...

Mengapa bukan Fredy atau Ivan Kolev ??

Menjelang berakhirnya putaran pertama ISL beberapa waktu lalu saya mulai menyadari besarnya tekanan yg harus dihadapi Danurwindo dalam menangani Persebaya,untuk itu saya selalu membesarkan hatinya untuk terus melatih dan keluar saya selalu pasang badan untuk membelanya dgn berbagai alasan agar dia tetap bisa fokus dalam menangani team,namun pada sisi yg lain saya juga berjaga-jaga dgn menghubungi Fredy Muli agar mau kembali ke Persebaya pada putaran kedua.Prediksi saya terhadap daya tahan Danur menghadapi tekanan menjadi terbukti,ketika pertandingan yg amat mengecewakan dengan Persijap berakhir,dia menemui saya untuk mengajukan pengunduran dirinya sebagai pelatih Persebaya.saya mencoba tetap menahannya dgn beberapa alasan namun pada sisi yg lain saya juga menyadari dia tidak mungkin lg bisa fokus dengan kondisi seperti itu

Untuk itu saya kembali menghubungi beberapa pelatih termasuk Ivan Kolev untuk melatih Persebaya,sayangnya dibutuhkan waktu paling cepat tiga minggu untuk mengurus administrasi Ivan Kolev,sementara pada sisi yg lain kita tdk mungkin menaikkan salah satu asisten pelatih menjadi pelatih kepala ketika mental team dalam kondisi drop pasca pertandingan melawan Persijap.
Setelah pendekatan dengan Fredy gagal saya menghubungi beberapa pelatih lokal dan asing juga membangun kembali hubungan dengan petinggi2 BLI untuk mengurangi tekanan non teknis yg sangat terasa sepanjang putaran pertama berlangsung.Sebenarnya saya tetap bertekad memberikan kesempatan kepada Danur untuk terus melatih bila saya mampu membenahi materi pemain yg memang menjadi masalah utama team.Upaya merekrut pemain baru untuk pengganti pemain yg jelek kontribusinya nyaris gagal karena kita selalu kedahuluan team2 lainnya dan saya amat yakin itu bagian dari gangguan non teknis yg menimpa kita maka pendekatan ke petinggi BLI dalam banyak bagian amat penting untuk mengangkat performa team dimusim ini.Alhamdulillah setelah hubungan harmonis terjalin kita relatif lebih mudah menghubungi siapapun tuk membenahi team maupun official,dan hari ini saya telah bersepakat dengan Rudi Wilyam Keltjes sebagai pelatih kepala Persebaya Persebaya dan juga Insya Allah bisa memperbaiki beberapa materi pemain di tengat waktu yg amat pendek.saya hanya mohon doanya agar Persebaya di tangan pelatih yg baru bisa tampil lebih semangat lg dgn karakter asli Persebaya dan mampu mendudukan Persebaya pada posisi yg pantas di ISL musim ini. (Ditulis oleh. Saleh Ismail Mukadar)
Read More...

Asal Ada Anang, Rudy Keltjes Siap Gantikan Danur

Dikaitkan sebagai pengganti Danurwindo di Persebaya, membuat Rudy William Keltjes angkat bicara. Dikonfirmasi mengenai hal ini, Rudy mengaku bersedia melatih Bajul Ijo. Tapi dengan satu syarat, Anang Ma'ruf harus tetap dipertahankan manajemen.

Ketika dihubungi wartawan, Kamis (25/2/2010) sore tadi, Rudy mengaku tahu jika dirinya dikaitkan dengan Persebaya. "Saya masih belum tahu. Manajemen juga belum menghubungi saya," aku Rudy.

Mantan pelatih Deltras Sidoarjo dan PSMS Medan itu menambahkan, dirinya saat ini masih berada di Jakarta. Rudy menyebutkan, dirinya hanya mau membesut Bajul Ijo jika pemain gaek yang berposisi di wing back kanan, Anang Ma'ruf dipertahankan manajemen Persebaya.

Ungkapan Rudy memang tidak mengada-ada. Sebab Rudy mengaku dirinya adalah salah satu fans pemain yang mengenakan kostum 15 itu. Ia beranggapan, selain elegan, Anang juga punya keistimewaan yakni umpannya yang sangat memanjakan striker-striker Persebaya.

"Dia adalah pemain bagus. Kalau saya bisa menyebut, dia adalah playmaker di sisi kanan Persebaya," papar ayah dari pesepakbola, Steven Keltjes itu.

Sementara itu, kabar bergabungnya Rudy ke Persebaya memang masih belum pasti. Sebab, manajemen Bajul Ijo hingga kini belum mengumunkan secara resmi siapa pengganti Danurwindo. Sedangkan, Danur sendiri dikabarkan bakal diangkat sebagai direktur teknik Persebaya (beritajatim.com) Read More...

Danurwindo Dipecat (?)

Prestasi Persebaya yang angin-anginan memang membuat pendukung Persebaya, Bonek gemas sehingga mendesak manajemen agar mendepak pelatih, Danurwindo. Tuntutan itu pun disetujui oleh manajemen. Tepatnya hari ini, Kamis (25/2/2010), dikabarkan Danur tak lagi menjadi pelatih kepala di Persebaya.

Siang ini, memang manajemen mengumpulkan seluruh pemain beserta tim pelatih. Tapi dalam pertemuan itu tidak semua pemain datang. Enam pemain absen dalam pertemuan tadi, yakni Ngon A Djam, Andi Oddang, Satrio Syam, Supriyono, Josh Maguire dan John Tarkpor.

Menurut sumber yang enggan disebutkan namanya, pertemuan itu berlangsung kurang lebih selama satu jam. Inti dari pertemuan itu adalah pengumuman pemecatan Danurwindo. Menurutnya, dalam pertemuan tadi, manajemen juga menyebutkan pengganti Danur, yakni Rudy Keltjes.

''Ada baiknya kalau sampeyan juga konfirmasi ke manajemen,'' kata sumber yang mewanti-wanti agar namanya tidak disebutkan itu.

Dikonfirmasi mengenai hal ini, manajer Persebaya, Saleh Ismail Mukadar masih malu-malu untuk mengungkapkan kenyataannya. Namun dari pernyataannya, mengindikasikan bahwa Danur memang tidak berumur panjang di tim yang identik dengan warna hijau itu.

''Sampai dengan hari ini Pak Danur masih pelatih Persebaya. Tapi saya tidak tahu nanti malam atau besok apa tetap melatih disini,'' ucap Saleh seolah menutupi hal yang terjadi.

Sementara itu, Danurwindo hingga kini belum memberikan komentar atas kabar pemecatan itu. Ketika beritajatim.com sudah mencoba menghubunginya, namun tidak ada respon dari Danur.� Tapi yang jelas, sebelumnya asisten manajer Persebaya, Cholid Goromah mengungkapkan jika posisi Danur akan dinaikkan menjadi penasehat teknis (beritajatim.com)
Read More...

Saleh : Mengapa saya memilih Danurwindo ??

Persebaya sudah positif memilih Danurwindo sebagai pelatih kepala Persebaya untuk musim 2009-2010. Pro dan kontra bermunculan. Kelompok yang kontrak menyebut Danurwindo sebagai pelatih yang gagal, tidak pernah berprestasi bahkan pernah melatih klub yang akhirnya terkena degradasi. Saya tidak membela Danurwindo. Saya hanya ingin bercerita apa latar belakang akhirnya memilih Danurwindo sebagai pilihan.

Pada tahun 2003, saat Pak Bambang DH dilih Pengcab PSSI Surabaya sebagai Ketua Umum Persebaya, saya dimintai tolong untuk membantu beliau. Saya diminta agar menyusun kabinet kepengurusan Persebaya saat itu. Saat menentukan siapa yang menjadi ketua harian, saya disodori dua nama oleh Pak Soekamto Hadi. Satu nama adalah pengusaha lokal Surabaya yang sangat suka bola dan nama kedua adalah Haji Susanto.
Dijelaskan bahwa saya lebih baik memilih pengusaha tersebut karena yang bersangkutan akan mudah diatur, bisa mendengar / menerima masukan, mau berkorban dengan waktu tenaga pikiran dan juga biaya pribadi dalam mengurus sepakbola. Saya juga diminta untuk tidak memilih H Santo yang katanya susah diatur, cenderung menjadi sosok pemberontak, tidak memiliki duit, dan memiliki banyak musuh.

Kedua orang tersebut belum saya kenal sama sekali. Baik H Santo maupun pengusaha tersebut. Tetapi justru karena laporan tentang trade recordnya tsb saya lebih tertantang untuk milih Haji Santo ketimbang yang lain. Mengapa? Karena saya memiliki keyakinan, bahwa dibalik berbagai informasi yang negatif tentang Haji Santo tersebut, pasti ada kelebihan postif lainnya yang menjadi potensi orang tersebut.

Karenanya sekalipun Pak Kamto dan teman-teman lainnya merasa heran dan keberatan, saya tetap mengambil sikap bulat untuk memilih almarhum Haji Santo sebagai ketua harian. Pilihan saya tentu mengundang polemik yang luar biasa di internal Persebaya. Tapi saya yakin bahwa polemik tersebut hanya bisa dijawab oleh prestasi dan hasil kerja di kemudian hari. Dan karenanya saya tetap dengan keputusan tersebut dan bekerja sama dengan Beliau dari tahun 2003 sampai saat sama-sama dihukum oleh PSSI pada akhir 2005.Terbukti kemudian bahwa dengan bantuan almarhum sekalipun dalam tengat waktu yang pendek dari November 2003 sd September 2005 kami membawa Persebaya sebagai Runer Up Piala Bang Yos,Juara Nasional Divisi Utama Indonesia (sekarang ISL),mengikuti champion Asia,empat besar Divisi Utama 2005.

Sama juga halnya saat saya mengambil Jacksen F Tiago sebagai pelatih Persebaya. Jacksen memang mantan bintang Persebaya, tapi saat itu dia hanya memiliki pengalaman sebagai pelatih klub internal Persebaya, Assyabaab. Banyak yang mengeritik saya, kenapa klub sebesar Persebaya dilatih oleh 'pelatih' kacangan. Tapi karena saya punya keyakinan bahwa Jacksen memiliki potensi dan kemampuan untuk melatih Persebaya, sekalipun protes dan caci maki datang dari begitu banyak orang, saya tetap teguh dengan keputusan yang saya ambil.

Sekarang, dengan alasan yang sama pula, saya memilih Danurwindo. Saya juga memiliki keyakinan bahwa sosok Danurwindo memiliki potensi yang bisa membawa Persebaya meraih sukses dalam menapaki Liga Super.-----
Read More...

Danurwindo resmi besut Persebaya

Setelah sebelumnya masih malu-malu, kini Ketua Umum sekaligus manajer Persebaya, Saleh Ismail Mukadar secara resmi mengumumkan bila pelatih Bajul Ijo adalah Danurwindo.

"Secara resmi kita umumkan bahwa pelatih Persebaya adalah Danurwindo. Kita belum bisa mengumumkan sebelumnya karena memang permintaan beliau. Tapi kita sudah mencapai kesepakatan, termasuk beberapa intruksi tentang perburuan pemain," kata Saleh kepada wartawan, Rabu (5/8/2009).

Untuk itu, lanjut Saleh, selain tinggal menunggu kesempatan teken kontrak dengan Danur, mantan pelatih timnas Primavera, Arema Malang dan Persija Jakarta itu memastikan bakal langsung menangani tim pada tanggal 22 Agustus mendatang usai mengikuti program kepelatihan lisensi A AFC.

Selain itu, meski Danur belum bergabung, Saleh juga mengatakan bila Persebaya sudah akan bisa menggelar latihan perdana bersama pemain yang telah ada Minggu depan. "Minimal senin depan kita sudah bisa latihan perdana sambil nunggu Danur datang 22 Agustus," katanya.

Mengenai siapa yang akan memimpin latihan perdana, Saleh mengatakan semua akan diserahkan ke pelatih kepala untuk menunjuk asisten. Sebab selama ini, lanjutnya, wewenang pemilihan asisten berada ditangan Danur.

"Untuk asisten itu wewenang pelatih, entah itu siapa. Tapi yang jelas kita berharap bisa memanfaatkan tenaga asisten dari lokal sini. Bisa jadi Ibnu Grahan, Gomes de Olivera atau Machrus Afif. Makanya sebelum latihan perdana, mengenai jabatan asisten pasti akan sudah diputuskan," ungkapnya (beritajatim.com)
Read More...

Vijay Tinggal Teken Kontrak

Ketua Umum sekaligus manajer Persebaya, Saleh Ismail Mukadar kini mengaku sedang memburu amunisi lokal dari skuad tim nasional.

Hal ini dikatakan Saleh kepada wartawan, Rabu (5/8/2009). "Perburuan pemain lokal terus kita lakukan. Dan untuk saat ini tidak mungkin kita umumkan dulu sebelum ada deal atau kesepakatan. Yang jelas, dari beberapa pemain yang kita buru, diantaranya ada pemain nasional untuk posisi striker, gelandang dan stopper," katanya.

Tak ayal, hal itu memicu kabar spekulasi bahwa beberapa pemain incaran Persebaya dari skuad timnas diantaranya untuk striker bisa jadi adalah Bambang Pamungkas, Budi Sudarsono, Rahmat Rivai, Musafri dan Saktiawan Sinaga. Sedangkan untuk posisi gelandang, mereka diantaranya adalah Mahyadi Pangabean serta stopper Legimin Raharjo.

Sementara yang terbaru, Saleh memastikan telah mengikat mantan gelandang bertahan Sriwijaya FC, Vijay. "Kita sudah deal dengan Vijay pagi tadi di Jakarta," ungkapnya.

Bahkan, Vijay dikatakan akan datang ke Surabaya untuk menandatangani kontrak pada Senin depan (beritajatim.com)
Read More...

Deal, Persebaya Rekrut Ngon A Djam-Jhon Tarkpor

Perburuan tiga pemain asing non Asia Persebaya telah berahir. Hal ini setelah Ketua Umum merangkap manajer tim Persebaya, Saleh Ismail Mukadar memastikan bila pihaknya telah mendapat kesepakatan alias deal bersama Ngon A Djam dan John Tarkpor.

"Kita sudah deal dengan mereka Selasa malam di Jakarta. Jadi tiga jatah pemain asing Non Asia untuk Persebaya telah kita penuhi, tinggal dua lagi dari Asia," kata Saleh kepada wartawan, Rabu (5/8/2009).

Sebelumnya, selain merekrut mantan striker Sriwijaya FC dan gelandang Persitara itu, Persebaya telah mengikat Anderson da Silva, stopper asal Brasil untuk tetap bertahan.

Namun, disinggung mengenai plafon harga kontrak ketiga pemain asing tersebut, Saleh terkesan tertutup. "Soal harga saya lupa, tapi yang jelas, mereka tinggal teken kontrak," ujarnya.

Sedangkan mengenai dua pemain asing Asia yang menjadi kewajiban yang dimiliki setiap klub ISL dari 5 pemain asing yang ada, Persebaya mengaku ditawari tiga pemain tim nasional Iran oleh seorang agen.

"Mereka katanya dari skuad timnas senior. Tapi saya tidak tahu apakah itu skuad timnas senior yang sekarang atau kapan. Yang jelas, mereka berposisi sebagai striker,gelandang dan stopper," tambah Ketua Harian Persebaya, Cholid Goromah.
Read More...

Freddy Muli masih jadi pilihan utama Bonek

Setelah lolos di liga super, kini persebaya yg masih di tangani Saleh Ismail Mukhadar yg juga menjabat sebagai manager persebaya telah sibuk berburu pelatih yang akan menangani Persebaya di Liga Super Indonesia mendatang. Sampai hari ini kandidat terkuat adalah Jaksen Tiago, Jaya Hartono dan Rudi William Keltjes. Jaksen Tiago yg masih terikat dengan persipura pun ternyata memberi peluang kepada Persebaya. Bahkan sering melakukan komunikasi dengan saleh. Terakhir Jaksen datang ke Surabaya, Jaksen mengaku bahwa di Indonesia ini Surabaya lah kampung halamannya dan tidak tertutup kemungkinan kedatangan Jaksen juga sekaligus membicarakan masalah kandidat pelatih Persebaya. Kandidat lain adalah Jaya Hartono yang juga menjadi salah satu incaran. Jaya hartono adalah pelatih yg bagus, tapi banyak kalangan yg menilai bahwa pola Jaya Hartono tidak cocok dengan pola dan karakter Persebaya. Demikian dengan Rudy William Keltjes yg juga menjadi bidikan Saleh Mukhadar, belum menunjukkan prestasi yg membanggakan selama melatih baik tim divisi utama maupun LSI.

Sebetulnya ada kandidat lain yg tidak dimasukkan saleh tapi sangat di cintai dan di idam-idamkan oleh Bonek, yaitu sosok Freddy Mulli. Bagi Bonek sosok Freddy Muli lah yg cocok dengan karakter permainan Persebaya. Freddy Muli juga sosok pelatih yang sangat dekat dengan Bonek. Bahkan dari Polling yang di lakukan oleh situs resmi bonek www.bonek-cyber.web.id nama Freddy menjadi favorit utama. Dan Freddy Muli juga menunjukkan prestasi yang luar biasa selama menangani persebaya. Bonek merasa yakin Persebaya akan bisa berprestasi jika pelatihnya adalah Freddy Muli. Apakah pengurus menerima sosok Freddy Muli ? semoga Bapak Saleh Ismail Mukhadar juga mendengarkan suara arus bawah yaitu suporter Persebaya dan mengakomodasinya untuk bisa menerima kembali sosok Freddy Muli. Kita tunggu saja kabar selanjutnya... Read More...

Kalahkan Persigo 2-1, sebagai modal awal

Samarinda - Persebaya akhirnya berhasil menuai poin penuh pada laga perdananya menghadapi Persigo Gorontalo pada babak delapan besar Divisi Utama Grup K di Stadion Segiri, Samarinda, Senin (18/5/2009).

Hal ini setelah pertandingan berakhir, kedudukan 2-1 untuk Persebaya tetap tidak berubah sejak babak pertama.

Namun, raihan tiga poin ini tak membuat Bajul Ijo memuncaki klasemen Grup K lantaran pada pertandingan sebelumnya, Persisam Samarinda menang telak atas Mitra Kukar 5-1.

Sehingga, dengan hasil ini untuk sementara tuan rumah Persisam bertengger di puncak klasemen disusul Persebaya dengan raihan 3 poin.

Sementara itu, lahirnya tiga tendangan penalti pada laga Persebaya melawan Persigo, yang diberikan wasit Syamsudin Lintah, asal Makasar, menurut Bendahara Hendri Suhariyanto saat dihubungi beritajatim.com cukup fair. "Meski ada tiga penalti, tapi semuanya bersih," katanya.

Pada laga selanjutnya, pada 20 Mei nanti, Persebaya akan bertemu dengan Mitra Kukar. Sedangkan tuan rumah Persisam, akan menghadapi Persigo Gorontalo (berijajatim.com) Read More...

Ratusan Bonek berangkat ke Samarinda, Pusamania siap tampung Bonek

Ratusan Bonek malam ini berangkat ke Kalimantan, sebagian besar menggunakan kapal laut dan sebagian lagi menggunakan pesawat terbang. Isu yang menyebutkan bahwa Pusamania tidak menerima kehadiran bonek tidak terbukti dan hanya salah paham saja karena pemberitaan yang tidak benar dari media lokal di kaltim. Bahkan Pusamania akan menjemput dan mengantarkan Bonek dan akan menampung Bonek di markas Pusamania. Hubungan baik Pusamania dengan Bonek sudah berjalan dengan baik sejak PON di Kaltim beberapa saat yang lalu, dimana PON Jatim di dukung oleh ratusan suporter Jawa Timur yang sebagian besar Bonek yang datang langsung dari Surabaya. Terima kasih Pusamania !! Read More...

Surabaya Sport Center Dijadwalkan Selesai Akhir 2009

SURABAYA - Sudah puluhan tahun Surabaya menantikan kompleks olahraga yang memadai. Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya memang sudah tak punya stadion yang memadai. Stadion Gelora 10 Nopember, yang didirikan pada 1951, sudah jauh dari status layak.

Sekarang warga Surabaya tidak perlu lagi menunggu terlalu lama. Dan, kali ini warga Surabaya bisa menunggu sesuatu yang spektakuler.



Tidak lama lagi Surabaya memang bakal memiliki kompleks olahraga supermegah dengan fasilitas superlengkap. Proyek bernama Surabaya Sport Center (SSC), yang memakan dana Rp 440,2 miliar, dijadwalkan selesai paling lambat Desember 2009.

Berlokasi di kawasan Benowo, Surabaya Barat, kompleks itu terdiri atas sebuah stadion utama berkapasitas 50 ribu penonton, sebuah stadion indoor berkapasitas 10 ribu penonton, dan sebuah masjid. Nanti kompleks tersebut juga direncanakan memiliki stadion atletik dan sirkuit.

Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono mengatakan bahwa pemerintah kota memang tidak ingin membangun sembarangan. ''Stadion itu dibangun sangat memadai dan berstandar internasional,'' tandasnya.

Bambang berharap, kompleks itu bakal menjadi salah satu kenangan manis yang dia tinggalkan setelah tidak lagi menjabat wali kota (berakhir 2010). Dia berharap, siapa pun penggantinya nanti, proyek tersebut bisa dilanjutkan karena untuk kepentingan orang banyak.

''Saya tidak tega melihat penonton sepak bola yang tidak bisa masuk kalau di Stadion Tambaksari (Gelora 10 Nopember, Red),'' ucapnya. ***

Lokasi SSC memang tergolong terpencil. Di pinggiran Surabaya. Bagi yang penasaran ingin melihat, paling cepat naik tol arah Gresik, keluar ke arah Romokalisari. Setelah itu, tinggal mengikuti jalan menuju ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Benowo. Kompleks SSC berada di sebelah TPA tersebut.

Lama tidak dibicarakan, kompleks itu ternyata sudah mulai terlihat bentuknya. Dari kejauhan, stadion utama yang dinamai Gelora Bung Tomo tersebut sudah terlihat begitu besar.

Apalagi bisa ke dalamnya. Kalau berdiri di tengah-tengah stadion yang sedang dibangun itu, kita sudah bisa membayangkan bagaimana atmosfer pertandingan nanti. Sebab, tribun utama di dua sisi sudah mulai berbentuk.

Menurut Adhi-Recon, Jo. sebagai kontraktor, proyek itu berjalan sesuai jadwal. Target penyelesaian bulan ini (Mei) diklaim sudah terpenuhi, bahkan melampaui target. Mei ini pengerjaan stadion utama ditargetkan rampung 24,25 persen. Mereka mengklaim, saat ini pengerjaan mencapai 28,67 persen.

Sudardi, seorang engineer utama di kontraktor tersebut, mengatakan bahwa atap stadion mulai dipasang bulan depan. Dia menjelaskan, sesuai kontrak, pengerjaan seharusnya selesai Oktober mendatang. Namun, karena pemkot terlambat dalam menyerahkan lahan, pengerjaan dimungkinkan molor hingga Desember. ''Tapi, Desember sudah siap,'' tandasnya.

Boedi M. Wibowo, presiden komisaris PT Isoplan selaku construction management SSC, juga menyatakan optimistis bahwa proyek tersebut bisa selesai akhir tahun ini. Dia menjelaskan, secara keseluruhan proyek SSC rampung 38,22 persen.

***

Gelora Bung Tomo merupakan centerpiece (komponen utama) dari SSC. Stadion utama di SSC ini disiapkan sebagai stadion yang superkomplet. Bukan hanya menampung 50 ribu orang, stadion itu juga disiapkan memiliki standar fasilitas yang tinggi.

Untuk penonton, disediakan tiga kelas. Ada standar, VIP, dan VVIP.

Anita Yuliani, engineer Adhi-Recon, Jo., menjelaskan bahwa Gelora Bung Tomo memiliki 21 pintu masuk di sekeliling stadion. Masing-masing pintu memiliki dua akses menuju ke tribun. ''Dengan banyaknya akses itu, penonton bisa lebih leluasa dan nyaman,'' ujarnya.

Demi menjaga ketertiban dan keamanan saat masuk, pintu masuk dibuat berkelok-kelok seperti ular. Setiap jalur hanya muat satu baris penonton dengan dibatasi besi kukuh yang mampu menahan desakan penonton.

Alur antrean itu nanti melewati sebuah ruangan khusus yang menjadi tempat screening. Di sana semua penonton yang akan masuk stadion diperiksa satu per satu oleh petugas keamanan. ''Itu dilakukan untuk menyaring penonton yang membawa benda-benda yang dilarang. Misalnya, senjata maupun minuman keras,'' ucap Anita.

Di dalam stadion, penonton langsung menempati tribun. Khusus untuk penonton kelas standar, tempat duduknya tidak berbentuk kursi plastik, melainkan dari beton. Meski begitu, penonton tetap dibuat nyaman. Sebab, setiap ''tangga'' duduk penonton dirancang selebar 80 cm. Dengan demikian, penonton bisa duduk enak karena alas duduknya lebar.

Tidak hanya itu, tinggi dudukan dibuat 48 cm. Anita mengatakan, hitungan itu mempertimbangkan faktor kenyamanan selama menonton. Posisi kaki bisa rileks meski dalam posisi duduk.

Tempat duduk penonton sengaja tidak dibuat dari plastik. Perempuan asal Nganjuk itu menjelaskan, berdasar pengalaman di beberapa stadion, dudukan yang berbentuk kursi justru mudah rusak. Apalagi, bahannya kebanyakan dari plastik. ''Malahan sering dipatahkan dan menjadi alat untuk melempar suporter lawan,'' ucapnya.

Selain itu, tempat duduk dari beton lebih awet meski terkena hujan dan panas setiap hari. Juga tidak mudah dirusak. Dan, yang lebih penting tidak bisa dijadikan alat untuk berbuat kekerasan.

Fasilitas lain yang tidak ketinggalan, tersedianya toilet yang lokasinya tidak jauh dari tempat duduk penonton. Toilet itu merata di beberapa penjuru stadion. Dengan demikian, penonton tidak kesulitan menemukannya.

SSC juga menyediakan tempat yang khusus menjual makanan dan minuman. Lokasinya berada di lantai 1. Penonton bisa leluasa mengakses lantai satu dan tribun selama pertandingan. ''Kalau pas nonton lapar, ada resto yang menyajikan aneka makanan dan minuman. Tidak perlu keluar gedung,'' tutur Anita.

Lain halnya dengan penonton kelas VIP dan VVIP. Untuk kedua kelas itu, SSC menyediakan fasilitas plus. Tiket kelas VIP dijual khusus, nanti bisa beli di lokasi maupun dengan cara online. Di sana penonton kelas ini disediakan tempat duduk menggunakan kursi sejenis sofa yang empuk. Kursi tersebut menghadap langsung ke arah lapangan. Dengan begitu, penonton bisa rileks dalam menikmati pertandingan.

Kapasitas kelas VIP terbatas, hanya 4.370 tiket. View-nya bakal istimewa karena berada di lantai 4-7. Untuk VIP, disediakan toilet khusus yang tidak tercampur dengan penonton kelas standar. Di lokasi tersebut juga disediakan resto yang menyediakan makanan dan minuman. Hanya, penonton tidak perlu turun ke lantai 1 karena sudah tersedia di lantai yang sama. ''Bisa saja bentuknya resto, kafe, atau sejenis lainnya,'' ucap Anita.

Lain lagi penonton kelas VVIP. Penonton diberi pelayanan seperti di hotel. Kelas istimewa itu disediakan khusus untuk tamu-tamu penting. ''Seperti pejabat negara atau yang lain,'' kata Anita. Penonton kelas itu ditempatkan di ruangan khusus yang terpisah dari penonton lainnya.

Untuk kelas tersebut, hanya tersedia delapan ruangan. Kapasitas masing-masing ruangan beragam, bergantung kepada tipenya. Ada yang superior, ada pula yang standar. Secara keseluruhan, kelas VVIP hanya menampung 130 penonton. Kalau di Eropa atau Amerika Serikat, ruang-ruang itu disebut corporate suite, biasanya dijual ke perusahaan-perusahaan yang berminat.

Di dalam ruangan disediakan sofa dan meja layaknya ruang tamu. Masing-masing ruangan diberi pelayan yang siap menyediakan segala sesuatu yang diminta tamu tersebut. Bahkan, untuk memesan makanan dan minuman, disediakan interkom yang tersambung langsung dengan pelayan yang sudah disediakan. Dengan demikian, penonton yang ingin makan tidak perlu beranjak dari kursi atau keluar ruangan.

***

Pembangunan Gelora Bung Tomo telah disusun sedemikian rupa. Termasuk memperhitungkan kemugkinan terjadinya kerusuhan yang menyebabkan penonton mengamuk hingga turun ke lapangan. Untuk mengatasi itu, Gelora Bung Tomo telah dikonsep untuk mengatasi turunnya penonton ke dalam lapangan.

Salah satu di antaranya, membuat jarak cukup jauh antara lapangan dan tribun penonton paling bawah. Di depan tribun paling bawah dibuat pembatas besi setinggi 1,5 meter. Ujungnya berbentuk huruf T. ''Pagar itu tidak mudah dinaiki penonton untuk melompat ke dalam lapangan,'' jelas Anita.

Di depan pagar itu lantas ditambahi semacam parit selebar dua meter yang mengelilingi lapangan. Jarak tribun paling bawah dengan dasar parit dibuat 3,75 meter. Jauh sekali. ''Dengan jarak tersebut, penonton pasti pikir-pikir kalau mau terjun dari tribun ke lapangan lewat parit,'' tambahnya.

Anita bercerita, Wali Kota Bambang D.H. sempat berkelakar ketika mengunjungi lokasi tersebut Rabu lalu (13/5). Bambang mengatakan, sebaiknya parit itu juga diisi buaya. Supaya penonton benar-benar tak berani melompat ke dalamnya.

***

Dengan progres yang ada ini, warga Surabaya tentu sudah berangan-angan seandainya SSC kelak sudah rampung. Bukan hanya stadion utama, juga fasilitas-fasilitas lain.

Hanya, masih banyak yang skeptis terhadap masa depan proyek tersebut. Apalagi, lokasinya begitu jauh dari keramaian.

Menanggapi keraguan itu, Wali Kota Bambang D.H. mengingatkan kita untuk berpikir jangka panjang. Dia menerangkan, pembangunan di kawasan Surabaya Barat dimaksudkan untuk membagi arus keramaian yang selama ini berada di pusat kota.

Selain itu, pemenuhan kebutuhan lahan 100 hektare untuk pembangunan proyek tersebut juga tidak dapat dipenuhi di pusat kota. Menurut Bambang, pembangunan SSC itu nanti menjadi pembangkit pembangunan di wilayah Surabaya Barat. Apalagi, pemkot saat ini juga membangun Rumah Sakit Surabaya Barat (RSSB) yang masih dalam tahap pengerjaan.

''Nanti kawasan itu akan menjadi kota baru,'' tandas Bambang, yang kemudian menambahkan bahwa saat ini banyak lahan di sekitar kawasan SSC yang dibeli developer.

Bambang juga menanggapi kekhawatiran soal akses menuju ke stadion. Dia menyatakan sudah menjalin komunikasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta guna membuka akses jalan tol untuk bisa diarahkan ke stadion. Hasilnya, pemerintah pusat memberikan lampu hijau terhadap usul tersebut.

Karena itulah, stadion tersebut kelak tidak akan lagi terasa jauh. ''Konsepnya nanti, akses terhubung lewat tol,'' ucapnya.

Pembukaan akses jalan tol itu memang krusial. Khususnya untuk memudahkan jalan dari Bandara Juanda. Salah satu syarat gedung berstandar internasional memang kemudahan akses dari bandara.

Bambang menjelaskan, dari Bandara Juanda, gedung itu nanti bisa diakses lewat Tol Waru-Juanda. Dari Waru lantas masuk tol ke arah Benowo. Rencananya, arus tol di kawasan Dupak dipotong untuk akses ke SSC. Dengan rute tersebut, dari bandara ke SSC diperkirakan hanya membutuhkan sekitar 20 menit naik mobil.

Apalagi kalau jalan lingkar timur dan barat nanti jadi. Malah lebih cepat lagi,'' ujarnya.
Read More...

Persebaya Kalah lagi dan kandas di babak 16 Besar Copa

Persebaya akhirnya kandas di babak 16 besar Copa Indonesia, setelah kalah dengan agregat 3-4 dari Persitara Jakarta Utara. Kekalahan ini patut di sayangkan karena persebaya sempet unggul dengan agregat 3-0 sampai di babak pertama. Faktor fisik dan ketidakdisiplinan pemain membuat buyar ambisi persebaya untuk lolos ke 8 besar. Dalam pertandingan kemarin persebaya sempat unggul 1-0 (3-0) setelah Mourad Fariz lewat tendangan bebasnya berhasil membobol gawang persitara yang di kawal Ronny Tri Prasnanto. Persitara mencoba mengejar di sisa waktu yang ada. Namun hingga jeda pertandingan, tak satu pun serangan tuan rumah yang menghasilkan gol dan skor tetap bertahan 1-0 untuk Persebaya.

Ketinggalan 0-1 membuat kerja pemain-pemain Persitara di babak kedua kian berat. Pasalnya, di babak kedua Laskar Si Pitung harus mampu mengejar devisit 3 gol untuk bisa lolos ke babak 8 besar.

Memasuki babak kedua serangan Persitara semakin bervariasi. Pergerakan ujung tombak Si Pitung Rahmat Rivai juga lebih liar dibanding babak pertama.

Setelah beberapa kali tak berhasil menjebol pertahanan Persebaya, Rahmat Rivai akhirnya mendapat ruang tembak di kotak penalti Persebaya pada menit ke-50 setelah mendapat umpan dari Banaken Bossoken.

Kesempatan ini tak disia-siakan oleh striker yang akrab dijuluki Pochi itu. Tendangan kerasnya ke sisi kanan gawang Persebaya tak mampu dibendung oleh Endro Prasetyo. Skor pun berubah menjadi 1-1.

Lima menit berselang, Pochi kembali merobek jala Persebaya. Tendangan kerasnya dari luar kotak penalti kembali gagal dibendung Endro. Skor pun berbalik 2-1 untuk Persitara.

Selepas dua gol Persitara, pertarungan mulai berjalan dalam tensi tinggi. Kedua tim yang tak ingin kebobolan menerapkan sistem pertahanan sapu bersih.

Insiden perkelahian bahkan sempat mewarnai pertandingan. Pemain belakang Persitara, Regi Radityo dan pemain depan Persebaya Jairon Feliciano baku hantam di menit ke-59'.

Wasit Jajat Sudrajat yang memimpin pertarungan langsung mengganjar keduanya dengan kartu merah.

Kehilangan satu pemain tak mengendurkan semangat Persitara. Bahkan di menit ke-63, Prince Kabier Bello berhasil mencetak gol ketiga bagi timnya melalui sebuah tandukan memanfaatkan sepak pojok.

Gol yang dicetak Bello membuat skor berubah menjadi 3-1 dan agregat menjadi 3-3.

Persebaya mencoba mengejar ketertinggalannya. Namun serangan Andi Odang dan Batoum Roger di babak kedua selalu kandas di kaki pemain belakang Persitara.

Sebaliknya, Persitara akhirnya memastikan diri lolos ke babak 8 besar setelah Pochi mencetak hattrick pada menit ke-82' memanfaatkan bola rebound hasil tendangan John Tarkpor. Skor pun berubah menjadi 4-1 dan Persitara unggul agregat 4-3 atas Persebaya.

Read More...

Bonek - NJ Mania adalah Saudara

Kedatangan bonek ke kuningan tentu saja sudah berkoordinasi dengan NJ Mania. Karena pertandingan Persitara vs Persebaya di leg2 Copa Indonesia, Persitara lah sebagai tuan rumah. Bonek mempunyai hubungan baik dengan NJ Mania. Dan ini sudah di buktikan dengan hadirnya NJ mania di surabaya ketika pertandingan Leg1. Begitu pula ketika NJ mania melakukan lawatan di sidoarjo. Teman-teman NJ mania juga di tampung di markas Bonek di surabaya. Semoga pertandingan Persitara vs Persebaya di Kuningan bisa jadi pesta buat kita semua dan tanpa kerusuhan, apalagi konon pertandingan ini juga di hadiri oleh sodara lama kita yaitu Viking. Viking ingin membalas kebaikan bonek, karena sebelumnya Viking yg berkunjung ke Sidoarjo juga di dampingi oleh Bonek, bahkan di kawal sampai stadion delta sidoarjo. Read More...

Bonek sudah menggelar spanduk di stadion kuningan

Asisten pelatih Ibnu grahan geleng-geleng kepala dan mengakui kekagumannya pada Bonek yang setia mendampingi persebaya. Ketika menjajal lapangan kemarin rombongan pemain persebaya pun nampak kaget dengan kehadiran sekitar ratusan Bonek yang sudah berkeliaran di seputar stadion kuningan. Dari informasi bahwa rata-rata bonek tersebut adalah yg datang ke Bojonegoro, begitu selesai lawan persibo mereka langsung melanjutkan perjalanan ke kuningan jawa barat. Sebagian spanduk sudah tampak terpasang di sekitar stadion. Sementara informasi Dari YSS di kabarkan bahwa sekitar 600 bonek sudah bergerak ke kuningan sore kemarin dari stasiun pasar turi surabaya. Diharapkan ketertibannya selama perjalanan dan di himbau agar bonek tidak lempar-lempar batu terutama di daerah lamongan. Read More...

Persisam & Persema Jadi Tuan Rumah

Badan Liga Indonesia akhirnya menetapkan status tuan rumah bagi babak delapan besar Divisi Utama 2008/2009. Persisam Samarinda menjadi tuan rumah Grup K dan Persema Malang untuk Grup L.

Menurut Direktur Bidang Kompetisi Badan Liga Indonesia (BLI), Joko Driyono, terdapat 11 item yang diperhatikan dalam penunjukan tuan rumah 8 besar. Di antaranya yakni infrastruktur, lokasi, akses, kapasitas stadion, lapangan latihan, stadion pendamping, daya dukung kota, fasilitas hotel, perangkat pertandingan dan catatan disiplin.

"Kedua daerah itu sudah melengkapi seluruh item yang kita inginkan. Utamanya untuk masalah kelengkapan infrastruktur," kata Joko saat dihubungi VIVAnews, Senin 11 Mei 2009.

Sebelumnya, empat klub mengajukan diri jadi tuan rumah babak 8 besar. Masing-masing Persebaya Surabaya, Persikab Kabupaten Bandung, Persema Malang dan Persisam Samarinda.

Persikab gagal jadi tuan rumah, karena gagal lolos ke babak 8 besar. Nasib yang sama juga dialami oleh Persebaya Surabaya. Bedanya, Green Force merupakan salah satu kontestan babak 8 besar.

"Tidak ada pertimbangan lain. Kami hanya memilih daerah yang paling layak saja," kata Joko.

Babak 8 besar Divisi Utama 2008/2009 akan digelar 18, 20 dan 23 Mei 2009. Grup K diisi Persisam Samarinda, Persebaya Surabaya, Mitra Kukar dan Persigo Gorontalo. Tim-tim ini akan bertarung di Stadion Segiri Samarinda dengan stadion pendamping Sempaja.

Sedangkan Grup L yang diisi Persema Malang, PSPS Pekanbaru, Persiba Bantul dan Persikabo Bogor akan bermain di Stadion Gajayana Malang dengan stadion pendamping Kanjuruhan.

Seperti jadwal yang dirilis BLI, kedua grup akan bermain bersamaan. Pertandingan pertama pukul 15.30 WIB dan kedua pukul 19.00 WIB waktu setempat. Untuk laga semifinal dan finalnya, BLI memilih Stadion Palaran, Samarinda sebagai venue pada 26 dan 29 Mei.

Kewajiban Tuan Rumah

Ditambahkan Joko, sebagai tuan rumah, Persema dan Persisam juga harus memenuhi beberapa kewajiban lainnya. Antara lain, akomodasi tim tamu untuk delapan hari dan transportasi lokal serta match fee sebesar Rp 50 juta.

"Namun, bukan berarti uang ini akan memberikan nilai plus bagi tuan rumah. Karena Komisi Disiplin (Komdis) akan turut mengawasi,” tandasnya.

Sementara itu, tiga tim telah dipastikan terdegradasi dari Divisi Utama musim depan. Mereka adalah Persibat Batang, PSP Padang (Wilayah Barat) dan Persekabpas Pasuruan (Wilayah Timur).

“Sesuai keputusan Raparnas PSSI 2009, untuk musim depan Divisi Utama akan diisi 36 tim. Masing-masing 12 tim terbagi dalam tiga wilayah. Untuk Divisi Satu ada 66 tim dan Divisi Dua 100 tim,” tandas Joko.

Pembagian Babak 8 Besar
Grup K:
Persisam Samarinda, Persebaya Surabaya, Mitra Kukar, Persigo Gorontalo
Grup L: Persema Malang, PSPS Pekanbaru, Persiba Bantul, Persikabo Bogor

Jadwal Pertandingan
18 Mei
Grup K:
Persisam Vs Mitra Kukar, Persebaya Vs Persigo
Grup L: Persema Vs Persiba, PSPS Vs Persikabo

20 Mei
Grup K:
Persisam Vs Persigo, Persebaya Vs Mitra Kukar
Grup L: Persema Vs Persikabo, PSPS Vs Persiba

23 Mei
Grup K:
Persisam Vs Persebaya, Mitra Kukar Vs Persigo
Grup L: Persema Vs PSPS, Persiba Vs Persikabo
Read More...